Betapa banyak hal yang terlewat
menyeruak gelap yang pekat
menembus dinding batas yang terkuat

Alam dan seluruh rahasianya
menyandi segala jauh perjalanan asa
yang menyeru semua harapan kita

Hendak kemanakah angin lalu
yang berhembus beku
menafikan segala peluh laraku

Artian yang sedemikan dalam
menjeram segala dendam
dan bekukan segala muram

Gila saja jika kau turut lelahmu
dia tak pernah ada untukmu
ataupun menyisihkan usahanya untukmu

Ini bukan akhir perjalanan
masih panjang semua pilihan jalan
membentang luas sampai akhir tujuan

Adalah kaki ini yang masih terus berjalan
pelan menahan segala artian
bahwa kita ada dan masih bertahan

Ketika waktu menertawakanku
tinggalkanku dalam bilik berdebu
yang terhempas beku
menanti hadirmu

Entah mengapa aku masih menunggu
dalam saat yang terus berlalu
mencoba menghapus rindu
dan semua kenangan akanmu

Lambat nian waktu kurasa
dalam gelisah yang semakin meraja
menguasai akal sehat dan jiwa
tuk kemudian tinggalkanku dalam tanya

Aku tahu tak pernah mudah
menyatakan diri telah kalah
namun memang diriku telah patah
dalam usaha meretas sejarah

Malam pun memelukku mesra
lingkupi indraku dari segala rasa
biarkanku terdiam sendiri saja
sebelum mentari terbit dan pagi tiba

Titik-titip api berkobar
seperti halnya pendulum yang terbakar
berderai memutar
dan rontokkan jiwa yang kekar

Akankah malam berhenti
padahal tak ada lagi yang kan menyaksi
segenap derap rasa hati
yang membumi, rebah dan mati

Nian kelam saja jalan ini
yang bergelombang panas tanpa arti
menghunus sajak bunuh diri
menghempas laju di atas onak berduri

Gelap yang nyata terasa
menghembuskan dingin beku dalam raga
membisu dalam suara
dan menafikan arti tanda tanya

Ini hanya sementara
begitulah sang tetua mungkin berkata
namun behentilah saja
sebelum semua kata menghancurkanmu binasa

Senjapun akhirnya melangkah turut
titian nyali yang sudah semakin menciut
akan suatu harap yang surut
hingga akhirnyapun ajal menjemput

Saat ini aku terdiam sendiri
merenungi saat-saat yang sepi
tatkala waktu telah beranjak pergi
tinggalkanku berdiri tegak di tepi

Entah sudah berapa lama
aku pun sudah mulai lupa
tak pernah ku menghitungnya
tak pernah pula aku menghiraunya

Nestapa ini mungkin hanya ilusi
seperti hadirmu yang tak pernah pasti
hanya sekilas menjejakkan arti
kemudian pergi dan tak kembali

Yakinku masih sama seperti dulu
bahwa pasti ada saat tuk bertemu
namun yang pasti ketika itu
aku hanya bisa diam dan membisu

Usahlah semuanya mengerti
tak seburuk itu harusnya rasa ini
tapi memang rasanya sesak sekali
seperti luruhan dan lolongan jiwa yang mati

Malam pun menjadi teman
hangatkanku dalam peluk keniscayaan
bahwa esok akan datang membawa harapan
namun entah ku sudah pergi atau masih bertahan