Yep, tak ada yang mengalahkan ampuhnya bakso dalam mengganjal perut dengan rasa hangatnya yang khas.

Sore itu sembari menunggu jemputan teman-teman komunitas Yu Gi Oh Jogja untuk gathering di Holland iseng-iseng saya mencoba untuk menyempatkan mampir di Bakso Balungan. Sekilas memang nampak seperti warung bakso biasa, namun memang traffic (hilir mudik) pelanggannya cukup intens di Sabtu sore itu.

Sejenak saya agak bingung ketika memesan menu, akhirnya ketika si penjual mulai mengambilkan part-part menu bakso (maaf-maaf, teknis banget sih kata-katanya xD), saya baru nyadar kalau ada satu part yang saya incar dan belum diambilin, yaitu balungannya (Ya iya lah, ngapain ke Bakso Balungan kalau gak makan balungannya). Akhirnya saya pun dengan sukses meminta bapaknya buat ngambilin balungannya. :D

Cita rasanya memang sungguh khas sih. Suasana Jogja yang adem sore itu ditemani semangkuk Bakso Balungan hangat dan segelas Jeruk Nipis hangat. Cukup membuat saya berharap kemesraan ini janganlah cepat berlalu... Menikmati lapis demi lapis daging di balungan yang begitu empuk untuk dipisah pake sendok dan garpu... Menikmati irisan demi irisan Pentol bakso yang juga berisi daging balungan... Well, that was really a good feeling...

Oh ya, selain mangkok bakso, bapaknya juga menyediakan satu tempat cuci tangan plastik, buat yang meresapi banget makan baluangannya kali yak? Hehe...

Anyway, this Bakso Balungan is recommended buat siapapun yang terdampar di Jogja dan pingin menikmati suasana ramah Kota ini just like me... :)

Photobucket Pictures, Images and Photos

Menghembus lemah dalam saksian
ketidakadilan dan kesemrawutan
betapa kejam manusia saling berebutan
harta, tahta dan jumawa kekuasaan

Banyak hal terlalui dalam perjalanan
melewati malam-malam panjang perjuangan
terhempas dalam kisaran revolusi zaman
dan akhirnya menetap di sudut kota pinggiran

Aku menyaksi dengan segala getir hati
sang penyangga pemimpin keluarga ini
yang dengan sepenuh hati
masih tegak dengan segala idealisme diri

Hanya waktu kan menjawab doa
hanya Tuhan lah yang melimpahkan rahmatnya
ada ketenangan batin di sana
ketika telah berjuang dengan sekuat tenaga

(Foto diambil : Desember 2012
Menemani Mbah Kung potong rambut)

Kamu, ya kamu
yang senantiasa menjeram hatiku
meluluhlantakkan rencanaku
malam ini apa rencanamu?

Aku hanya ingin mendengar lagi
tawamu yang menyejuk hati
yang kadangkala buatku ngeri
karena tak ingin kehilanganmu lagi

Mendung takkan menghalangi
hujan badai kan kulewati
demi dirimu peri
demi jumpa yang tak terganti

Usahlah kau tanya
aku hanya ingin memastikan saja
bahwa malam ini engkau ada di sana
tuk bertahta di hatiku dan menjadi warna

2/1/'12

Engkau yang ada di sana
ingatkah waktu kita bersama
melewati saat-saat yang takkan pernah sama
mencari setitik terang yang disebut asa?

Pagi ini kutemukan terang
bahwa tak semuanya menghilang
hanya terhempas kuatnya bimbang
yang sibukkan diri kita di waktu siang

Ilusi kejadian menerpaku kuat
jadikan jiwaku terpaku pekat
tak mampu lari dari hembus hasrat
yang mendorongku begitu dahsyat

Lama nian jumpa itu tiada
hanya bayangmu yang membawa warna
menghujamkan sebuah tanda tanya
kapankah lagi kita akan bersua

Oh, mungkin aku terlalu berharap
membawa jiwamu lari menderap
tunjukkan nyatanya sebuah sikap
menyambut waktu bertemu walau sekejap

Gerak nafasku pun semakin memburu
hanya menunggu penantianku berlalu
walaupun kadang terasa jemu
namun ku pasti menanti saat itu...

(dengan segenap sayap patahku)